BPPSPAM dan Pemda Pacu PDAM Kabupaten Kutai Timur Terapkan Tarif FCR
altDalam rangka memperbaiki kinerja PDAM, Pemerintah Daerah dan PDAM Kabupaten Kutai Timur melakukan kunjungan kerja ke kantor Badan peningkatan Penyelengaaran Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) di Kebayoran Baru pada Senin (28/8). Kunjungan diterima oleh Anggota BPPSPAM unsur Pemerintah, Ir. Aulawi Dzin Nun, MSc dan Advisor BPPSPAM, Ir. Budi Sutjahyo, MT dan Drs. Rifqi Basrie,  Msi serta staf teknis Bagian Dukungan Teknis BPPSPAM.

Direktur Utama PDAM Tirta Tuah Benua, Kabupaten Kutai Timur Aji Mirni Mawarni menyampaikan bahwa maksud dan tujuan PDAM Kabupaten Kutai Timur mengadakan kunjungan adalah untuk berkonsultasi mengenai penerapan tarif Full Cost Recovery (Biaya Pemulihan Penuh) pada PDAM dan manfaatnya untuk PDAM dan Pemda setempat. PDAM berharap BPPSPAM dapat memberikan penjelasan kepada PDAM dan perwakilan Pemda setempat mengenai nilai positif peneraapan FCR dan bagaimana pelaksanaannya sehingga dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Ir. M. Aulawi Dzin Nun, MSc menyampaikan bahwa pada tahun 2016, PDAM Kabupaten Kutai Timur memiliki kinerja sehat  dengan nilai poin 3.22 dan berada dalam urutan ketiga dari bawah bila dibandingkan dengan 8 PDAM di Kalimantan Timur. Meskipun PDAM belum menerapkan tarif  FCR, namun tingkat kebocoran airnya (Non Revenew Water) sudah di angka 20,5 %. Aulawi berharap, PDAM Kutai Timur dapat membagikan ilmu cara penurunan NRW sehingga dapat dijadikan bahan pelajaran oleh PDAM yang lain.

Aji Mirni Mawarni mengatakan bahwa PDAM Kabupaten Kuta Timur dapat melakukan penurunan NRW dari 25% menjadi 20% dengan cara teknis dan non teknis yaitu salah satunya dengan menerapkan sistem pembacaan meter air dengan menggunakan handphone (HP) berbasis android sebagai alat untuk membaca meter air pelanggan. Meskipun belum akurat 100 persen karena kadang peletakan GPS nya kurang tepat, namun sudah dapat menekan angka NRW.

altSementara itu Ir. Budi Sutjahyo, MT  mengatakan bahwa BPPSPAM pernah mendampingi PDAM Kabupaten Kutai Timur dalam penerapan efisiensi produksi. Dari hasil evaluasi didapat bahwa PDAM memliki  biaya operasi tinggi karena masih menggunakan Genset dalam pengolahan IPAnya. Selain itu  daerah layanan PDAM tersebar ke berbagai wilayah sehingga menambah biaya penggunaan Pompa Booster.

Agar dapat menerapkan tariff FCR maka PDAM perlu membangun menara air sebanyak banyaknya sehingga dapat meningkatkan jam operasi layanan menjadi 24 jam.  Selain itu PDAM harus mulai memikirkan untuk menggunakan energy alternative local, misalnya tenaga uap. Selama belum menerapkan tarif FCR maka PDAM dapat meminta subsidi dari Pemda untuk menutup biaya operasional PDAM sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri  Nomor 70 tahun 2016. (el/elz)

 

GIS BPPSPAM

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini4111
mod_vvisit_counterKemarin4296
mod_vvisit_counterMinggu ini26223
mod_vvisit_counterMinggu lalu31947
mod_vvisit_counterBulan ini103250
mod_vvisit_counterBulan lalu135361
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung3720848

Pengunjung Online : 72
IP anda : 54.224.158.232
,
2017-09-23 22:04